Deskripsi gambar

Dua Sisi Kelam Pemalang Malam Imlek 2026: Infrastruktur Kedodoran Lawan Hujan, Tata Kelola Sampah Masih Jalan di Tempat

IMG 20260216 WA0027
banner 120x600
banner 468x60

Dua Sisi Kelam Pemalang Malam Imlek 2026: Infrastruktur Kedodoran Lawan Hujan, Tata Kelola Sampah Masih Jalan di Tempat

Radarsindopemalang.com –

banner 325x300

PEMALANG – Ironi menyesakkan menyelimuti Kabupaten Pemalang jelang perayaan Imlek 2026. Di saat warga berharap kedamaian, wilayah ini justru menghadapi “serangan ganda” yang tak main-main: dikepung banjir akibat cuaca ekstrem dan ancaman “lautan” sampah yang kian tak terkendali.

Hampir seluruh wilayah Jawa Tengah, termasuk Pemalang, sedang berada di puncak musim penghujan. Namun, apa yang terjadi di Pemalang bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan cermin dari kesiapan infrastruktur dan manajemen krisis yang perlu dipertanyakan ulang.

Luka akibat bencana akhir Januari lalu belum sepenuhnya pulih. Banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Watukumpul dan Pulosari telah meluluhlantakkan puluhan rumah, merusak infrastruktur vital, hingga merenggut korban jiwa. Belum tuntas penanganan pasca bencana tersebut, kini wilayah bawah seperti Kecamatan Pemalang dan Comal kembali terendam akibat curah hujan tinggi pada malam jelang Imlek. Senin 16 Februari 2026.

Diibaratkan ‘Bom Waktu’ yang meledak lagi. Namun, air bah bukan satu-satunya musuh. Masalah klasik yang seolah menjadi “penyakit menahun” Pemalang kambuh lagi.

Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, kondisi darurat sampah terlihat nyata. Di saat air menggenang, tumpukan sampah justru “menghiasi” berbagai sudut kota. Pemandangan kumuh dan bau menyengat menyeruak di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS).TPS Mengori dan TPS Bojongbata tampak overload, sampah meluber hingga ke badan jalan. Kondisi serupa terjadi di pasar-pasar tradisional di wilayah Pemalang Selatan.

Sampah yang tidak terangkut ini bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menyumbat drainase yang seharusnya berfungsi mengalirkan air hujan—sebuah lingkaran setan yang memperparah banjir itu sendiri.

“Situasi ini adalah “tamparan keras” bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang. Masyarakat tidak butuh sekadar permintaan maaf atau sekedar alasan klise armada rusak dan TPA penuh,” kata Mas All dari Aliansi Wartawan Pantura Bersatu.

Menurutnya, langkah konkret harus segera diambil. Semisal membentuk tim reaksi cepat yang tidak bekerja terpisah. Penanganan banjir harus sejalan dengan pembersihan sampah yang menyumbat saluran air.

Lakukan pengerukan sedimen sungai secara masif saat curah hujan reda sesaat, dan pasang jaring penangkap sampah di titik-titik krusial agar sampah pasar tidak lari ke sungai.

“Buka ke publik mengenai kendala anggaran operasional kebersihan. Jika kurang, geser alokasi dana seremonial untuk penanganan darurat lingkungan. Pemalang kini berada di persimpangan jalan. Apakah akan membiarkan dirinya tenggelam dalam air dan sampah, atau bangkit dengan manajemen kota yang lebih profesional? Bola kini ada di tangan para pemangku kebijakan di Pendopo Kabupaten,” pungkasnya. (*)

banner 325x300
Editor: Suhermo GWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *