Deskripsi gambar

Pulosari Berduka: Satu Warga Tewas dan Ratusan Mengungsi Akibat Banjir Bandang

Pulosari Berduka: Satu Warga Tewas dan Ratusan Mengungsi Akibat Banjir Bandang
Pulosari Berduka: Satu Warga Tewas dan Ratusan Mengungsi Akibat Banjir Bandang
banner 120x600
banner 468x60

PEMALANG – Pemerintah Kecamatan Pulosari bersama tim gabungan lintas instansi bergerak cepat menangani dampak banjir bandang yang menerjang wilayah Pulosari, Pemalang. Selain mengakibatkan satu orang meninggal dunia, bencana ini memaksa 630 warga mengungsi dan memutus akses transportasi akibat rusaknya sejumlah infrastruktur vital.

Camat Pulosari, Arif Senoaji, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini sebanyak 630 warga telah dievakuasi ke tiga titik pengungsian utama: Kantor Kecamatan Pulosari, Gedung NU, serta beberapa masjid dan madrasah setempat.

banner 325x300

Terkait korban jiwa, dilaporkan satu orang warga Desa Penakir meninggal dunia. Sementara itu, warga yang mengalami gangguan kesehatan kini dalam penanganan intensif.

“Kami telah berkolaborasi dengan rumah sakit sekitar dan Puskesmas yang bersiaga 24 jam untuk memberikan pelayanan kesehatan serta bantuan obat-obatan bagi pengungsi,” ujar Arif Senoaji dalam keterangannya, Selasa (10/3).

Dampak terjangan air dan material banjir dilaporkan cukup signifikan, terutama di sepanjang aliran sungai Desa Penakir. Berikut rincian kerusakan sementara:

  • Pemukiman: 10 rumah hanyut dan rusak parah (penghuni berhasil dievakuasi).

  • Akses Jalan: 6 jembatan putus, dengan kondisi terparah di Dukuh Sawangan dan Dukuh Sarangan.

  • Fasilitas Pendidikan: SD 2 Nyalembeng sempat terendam material banjir dan kini dalam proses pembersihan oleh relawan.

Upaya pembukaan isolasi wilayah terus digenjot. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah mengerahkan alat berat, sehingga jalur Pulosari–Karangsari sudah kembali terbuka sejak sore kemarin. Untuk mengatasi jembatan yang putus, satuan Zeni TNI dijadwalkan melakukan survei hari ini guna pembangunan jembatan darurat.

Di sisi lain, tim Perhutani mulai melakukan investigasi penyebab bencana menggunakan drone. Pemantauan udara ini bertujuan untuk menyelidiki titik hulu sungai dan mendeteksi adanya potensi cekungan air (bendung alami) yang berisiko memicu banjir susulan.

Camat Pulosari mengapresiasi dedikasi seluruh pihak yang terlibat dalam masa tanggap darurat ini. Sinergi antara BPBD, TNI, Polri, relawan, dan dinas terkait dianggap menjadi kunci percepatan penanganan di lapangan. “Kami pastikan pelayanan 24 jam, terutama untuk penanganan akses yang terputus agar logistik tetap lancar,” tutupnya.

banner 325x300
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *