PEMALANG, – Tradisi tahunan jamasan pusaka peninggalan Kadipaten Pemalang menampilkan suasana yang tidak biasa pada tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya ritual pencucian benda bersejarah ini digelar pada pagi hari di area Garasi Rumah Dinas Bupati, kali ini Pemerintah Kabupaten Pemalang memilih atmosfer yang jauh lebih sakral.
Prosesi ritual jamasan dialihkan pada malam hari dan dipusatkan di salah satu Bangunan Cagar Budaya, Ndalem Notonagoro, Rabu malam, (24/6). Perubahan waktu dan tempat ini sukses memberikan nuansa magis sekaligus khidmat yang kental bagi jalannya tradisi adiluhung tersebut.
Sesaat sebelum prosesi jamasan dimulai, suasana di sekitar Pendopo Kabupaten Pemalang mendadak senyap. Hanya ada pendar cahaya dari puluhan obor yang dibawa oleh rombongan kirab.
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro bersama istri, dan Wakil Bupati Nurkholes bersama istri, memimpin langsung jalannya kirab budaya dengan berjalan kaki. Didampingi jajaran Kepala Perangkat Daerah serta para pengombyong atau iring-iringan pengikut, rombongan bergerak perlahan membelah kegelapan malam dari Pendopo Kabupaten menuju Ndalem Notonagoro di Jalan Kyai Makmur, Kelurahan Kebondalem.
Setibanya di lokasi cagar budaya, kesakralan acara kian terasa. Seluruh rangkaian seremonial, mulai dari doa bersama, laporan penyelenggara, hingga sambutan utama dari Bupati, disampaikan secara penuh menggunakan bahasa Jawa halus atau Krama Inggil.
Puncak acara ditandai dengan penjamasan benda-benda pusaka inti milik Kabupaten Pemalang. Bupati Anom Widiyantoro, yang didampingi oleh KRAT Purwanto Condro Nagoro, memimpin langsung prosesi pembersihan fisik dan spiritual benda-benda bersejarah tersebut.
Tidak hanya pusaka gengman, dua kereta kencana ikonik milik daerah juga turut dijamas dalam ritual ini:
Kereta Kencana Kyai Seto Mraman dijamas langsung oleh Bupati Anom Widiyantoro.
Kereta Kencana Kyai Turangga Jati dijamas oleh Wakil Bupati Nurkholes.
Sebagai simbol rasa syukur atas kelancaran acara dan berkah bagi bumi Pemalang, prosesi malam itu ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati.
Dalam sambutannya, Bupati Anom Widiyantoro menegaskan bahwa merawat pusaka peninggalan leluhur merupakan wujud penghormatan tertinggi terhadap sejarah dan kebesaran bangsa. Bagi Anom, pusaka bukanlah sekadar benda kuno yang mati.
Bupati menyampaikan bahwa pusaka bukan sekadar benda warisan, tetapi juga menyimpan sejarah dan menjadi saksi perjalanan waktu. Pusaka menjadi pengingat bahwa sebelum kita hidup pada masa sekarang, telah ada para leluhur yang berjuang dan berkarya demi kemajuan serta kemuliaan daerah.
Ia menambahkan, esensi dari jamasan ini tidak hanya untuk merawat fisik kereta kencana dan benda pusaka agar tidak rusak, tetapi juga sebagai sarana membumikan kembali nilai gotong royong dan saling menghormati di tengah masyarakat.
Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pembangunan sekaligus melestarikan budaya dengan memberikan sumbangsih tenaga, pikiran, dan gagasan di lingkungan masing-masing.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Fera Djokosusanto, menjelaskan bahwa jamasan yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1448 Hijriah ini sengaja dikemas berbeda untuk memperkuat daya pikat budaya lokal Pemalang di mata nasional.
Meski acara puncak kirab obor dan jamasan pusaka berlangsung pada pukul 19.00 hingga 22.00 WIB di Ndalem Notonagoro, rangkaian ritual sebenarnya sudah dimulai sejak pagi hari.
Pada pukul 07.30 hingga 11.30 WIB, telah dilaksanakan prosesi boyong kereta kencana Kyai Seto Mraman dan Kyai Turangga Jati yang dilanjutkan dengan pertunjukan beber ringgit wacucal atau wayang kulit beber, papar Fera dalam laporannya.
Acara yang berlangsung khidmat hingga akhir ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Pemalang, para seniman, budayawan lokal, serta tokoh masyarakat yang bersama-sama berkomitmen menjaga identitas budaya Pemalang agar tidak tergerus zaman.
Langsung ke konten


















